Email: Official@akarbanir.org

Pesona Keanekaragaman Orchidaceae di Gunung Ungaran

Gunung Ungaran merupakan Gunung di Provinsi Jawa Tengah yang terletak di antara dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang. Gunung ungaran memiliki ketinggian antara 900-2.050 mdpl dan suhu rata-rata berkisar 22-27°C dengan luas 5.500 ha yang mencakup hutan primer, hutan sekunder dan perkebunan kopi yang menjadi habitat bagi berbagai jenis anggrek, termasuk anggrek liar. Menurut (Comber, 1990) setidaknya terdapat 731 spesies dalam 130 genus anggrek yang ada di Pegunungan Jawa. 

Penelitian dilakukan di 11 lokasi yang berbeda, yaitu Gentong, Kalisidi, Pasigitan, Banyuwindu, Watuondo, Indrakila, Gonoharjo, Gajahmungkur, Camp Mawar, Gondang, dan Puncak. Daerah yang merupakan hutan sekunder diantaranya Gentong, Kalisidi, Pasigitan, Banyuwindu, Watuondo, Gonoharjo, dan Indrakila dengan ketinggian antara 900-1.500 mdpl. Kemudian pada Gajahmungkur, Gondang, dan Puncak dengan ketinggian 1.500-2.050 mdpl. Selain itu, terdapat Mawar Camp (1.000-1.800 mdpl). Dimana pada area ini terdapat 3 vegetasi, perkebunan pinus, hutan sekunder dan perkebunan kopi. Penelitian tersebut dilakukan antara tahun 2010-2021.

Pada 11 lokasi di atas, total 115 spesies yang ditemukan, dimana 78 speises merupakan anggrek epifit dan 38 sisanya merupakan jenis anggrek terstrial. Di gunung ungaran sendiri terdapat 3 subfamili dari lima subfamili Orchidaceae, yaitu Cypripedioideae, Orchidoideae, dan Epidendroideae. Anggota sub-family Cypripedioideae adalah anggrek terestrial yang memiliki labellum menyerupai kantong yang berbentuk seperti sandal. Sub family cypripedioidea diwakili oleh genus Paphiopedilum (Paphiopedilum javanicum). Anggrek yang terancam punah ini memiliki daun herba hijau dengan banyak bintik-bintik gelap di sisi abaksial dan memiliki labellum seperti kantong.

Gambar 1. Cleisostoma discolor Sumber gambar : Lutfian Nazar

Sub-family kedua adalah Orchidoideae, yang merupakan anggrek terestrial dengan perbungaan tegak, tumbuh dari umbi atau rimpang berdaging horizontal. Sub-famili Orchidoideae dalam penelitian ini diwakili oleh 9 genus yang dikelompokkan menjadi 3 Family: Cranichideae (Anoectochilus, Erythrodes, Goodyera, Hetaeria, Rhomboda, Macodes, dan Zeuxine), Diurideae (Thelymitra) dan Orchideae (Habenaria).

Gambar 2. Bulbophyllum lobii Sumber gambar : Lutfian Nazar

Sub family yang ketiga dan paling banyak adalah epidendroidea. Sebagian besar anggota family ini adalah epifit, tetapi terdapat beberapa yang merupakan anggrek terrestrial. Dalam penelitian ditemukan 45 genera dalam sub-famili ini yang dapat dikelompokkan menjadi 11 family,

  1. Family Arethuseae (Arundina, Nephelaphyllum, Calanthe, Phaius, Spathoglottis, Tainia, dan Ania).
  2. Family Collabieae (Chrysoglossum)
  3. Family Coelogyneae (Coelogyne, Pholidota, dan Dendrochilum).
  4. Family Epidendreae (Agrostophyllum).
  5. Family Epipogieae (Epipogium dan Stereosandra).
  6. Family Gastrodieae (Nervilia).
  7. Family Malaxideae (Crepidium dan Liparis).
  8. Family Podochileae (Bulbophyllum, Dendrobium, Eria, Bryobium, Mycaranthes, Pinalia, Trichotosia, Appendicula, Ceratostylis, dan Phreatia).
  9. Family Tropidieae (Tropidia dan Corymborkis).
  10. Family Cymbidieae (Acriopsis, Cymbidium, dan Eulophia).  
  11. Family Vandeae (Aerides, Rhynchostylis, Phalaenopsis, Luisia, Bogoria, Cleisostoma, Thrixspermum, Vanda, Polystachya, Taeniophyllum, Schoenorchis, Gastrochillus, dan Tuberolabium).

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, jumlah jenis yang paling banyak ditemukan pada bukit Gentong dengan 61 jenis. Suhu di gunung ungaran sendiri berkisar antara 22-27°C dengan ketinggian 900-2.050 mdpl yang dapat mendukung pertumbuhan lumut dan jamur mikoriza untuk hidup. Dimana mikoriza dan lumut berperan dalam habitat mikro anggrek serta memberikan kelembapan yang dibutuhkan oleh akar anggrek untuk tumbuh dan berkembang. Selain itu, ketersedian pohon besar dan tua dengan banyak cabang juga menjadi faktor jumlah spesies anggrek terutama anggrek epifit yang memerlukan inang utuk tumbuh. Semua faktor lingkungan tersebut terdapat pada bukit gentong sehingga tidak mengherankan apabila di gentong memiliki spesies anggrek terbanyak, dan 50% dari total yang ditemukan di bukit gentong adalah spesies epifit. Hal tersebut jugalah yang menyebabkan subfamili Epidendroideae, yang anggotanya merupakan spesies paling epifit, memiliki kekayaan paling melimpah dibandingkan dengan sub-famili lain di Ungaran.

Gambar 3. Dendrobium atavus
Sumber gambar : Lutfian Nazar

Kenaikan popularitas koleksi anggrek telah mengancam kelestarian berbagai spesies, termasuk yang hampir punah seperti Paphiopedilum javanicum dan yang memiliki bunga unik seperti Bulbophyllum lobbii, Vanda tricolor, Aerides odorata, dan Rhynchostylis retusa. Untuk mencegah kepunahan mereka, langkah-langkah konservasi segera diperlukan. Salah satu lokasi yang diusulkan untuk konservasi in-situ adalah Gentong, yang memiliki tingkat keanekaragaman spesies tinggi dan kondisi hutan yang relatif baik. Habitat yang disediakan oleh pohon besar dan perkebunan kopi yang tidak terlalu diintervensi juga cocok untuk mendukung pertumbuhan anggrek epifit.

Referensi

Comber JB. 1990. Orchids of Java. The Bentham-Moxon Trust, London

Kurniawan, F., Nazar, L., Anjarwati, R., Dwi, H., & Rahayuningsih, M. (2021). Orchids of Mount Ungaran (Indonesia) compiled from a decade of data collections between 2010 and 2021: The List of Ungaran Orchids. Nusantara Bioscience, 13. https://doi.org/10.13057/nusbiosci/n130214

Tinggalkan Pesan

two × 5 =